Hidup, Cinta dan Waktu

Hari Rabu dijadikan sebagai Hari Bahasa Sunda

Bandung yang lebih dikenal sebagai kota Kembang dan terkenal dengan Gedung Sate-nya yang megah ini ternyata adalah Kota Sunda yang sudah hampir tertinggalkan dengan Basa Sundanya.
Sekarang untuk menuju Bandung tidak membutuhkan waktu yang lama, untuk waktu dari kota jakarta saja sekarang ini hanya membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam saja. Dan siapa yang tidak pernah ke Bandung sebuah kota yang terkenal juga dengan sebutan Paris Van Java, kota pelajar yang berasal dari seluruh indonesia.
Bukan kota Bandung yang akan kita bahas dalam postingan saya saat ini, tapi akan membahas mengenai sebuah wacana Pemerintah setempat, dalam hal ini Bandung mengenai hari Rabu sebagai hari Bahasa Sunda. Kota bandung yang notabene adalah kota sunda, Parahiangan tetapi dalam kenyataanya sudah keluar dari sebuah kota sunda, setiap tempat setiap waktu sudah jarang kita temukan Bahasa Sunda yang terdengar dan terlihat dalam brosur, Pamplet dan Spanduk. Hilangkah Bahasa Sunda ini dinegerinya sendiri?

Memang aneh sebuah kota sunda tapi masyarakatnya sudah jarang menggunakan Bahasa Sunda dalam kehidupan sehari-harinya.
Memang aneh sebuah kota sunda tapi jarang terdengar orang-orang berbicara dengan bahasa daerahnya sendiri.

Sebuah Restoran dengan berbagai menu masakan sunda pun terpampang besar dipintu masuk ” WELCOME” bukan “WILUJENG SUMPING”
Sekolah Dasar, Lanjutan dan Atas hampir semua mata pelajaran menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar.
Lalu, kemana bahasa sunda ini larinya?

Basa Sunda daerah Bandung merupakan jenis Bahasa Sunda yang bagus, dalam artian jenis bahasa sunda yang sopan dan santun dalam bahasa dan tatakrama berbicara.

Dengan latar belakang masalah tersebut tersebutlah sebuah ide yang untuk membuat peraturan daerah yang mengatur setiap hari Rabu segenap warga Kota Bandung baik pejabat maupun masyarakata wajib menggunakan bahasa sunda. Adapun tujuan dari perda ini karena dikhawatirkan akan punahnya Bahasa Sunda di kotanya sendiri.

Semoga wacana ini bisa menjadi kenyataan, untuk menjaga apa yang telah menjadi ciri khas dan bahasa peninggalan nenek moyang kita.

Iklan

About djosave

3S (Simple, Sabar, Sayang)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s