Catatan Pendek Penulis | Setelah 1 bulan saya kurang produktif dalam menulis dan melihat statistik blog saya makin menurun, ada baiknya saya menulis kembali walaupun tulisan ini bukan hasil karya saya, tetapi saya hanya berusaha untuk membagikan ilmu yang saya dapat dari browsing.
semoga bermanfaat

KISAH DOKTER DAN LELAKI YANG GELISAH: HIKMAH PERISTIWA

Seorang dokter memasuki pintu rumah sakit dengan terburu-buru setelah dipanggil untuk keperluan operasi mendesak. Dia bergegas masuk ke ruangannya, ganti baju, dan segera menuju ke ruang operasi.

Di depan ruang operasi, seorang lelaki yang terlihat gelisah menghampirinya. Setengah berteriak, si lelaki berkata, “Mengapa kamu sedemikian lambat? Tidak tahukah kamu bahwa hidup anak saya dalam bahaya? Apakah kamu tidak memiliki rasa tanggung jawab?”

Dokter tersenyum dan berkata, “Saya minta maaf, tadi ada keperluan di luar dan saya berusaha datang secepatnya. Sekarang saya minta Anda tenang sehingga saya bisa segera melakukan pekerjaan saya.”

“Tenang? Bagaimana jika anak Anda berada di ruangan ini sekarang, Anda juga akan bersikap tenang? Jika anak Anda sendiri meninggal ketika menunggu dokter, apa yang akan Anda lakukan?” Berkata-kata demikian sang ayah terlihat marah.

Dokter tersenyum lagi dan menjawab, “Kami akan melakukan yang terbaik dengan berharap pertolongan Tuhan dan Anda juga harus berdoa untuk keselamatan putera Anda.”

“Memberi nasihat ketika kita tidak peduli sangat mudah,” gumam si lelaki.

Operasi berlangsung sekitar satu jam dan sekeluar dari ruang operasi, dokter itu terlihat senang, “Syukurlah. Putera bapak selamat!”

Dan tanpa menunggu jawaban si lelaki, si dokter yang wajahnya kemudian memerah dan matanya tiba-tiba berkaca-kaca itu bergegas meninggalkan tempat sambil berkata, “Jika ada pertanyaan, silakan bertanya kepada perawat.”

“Mengapa dia begitu sombong? Sedemikian tergesa-gesanya sampai saya tidak sempat untuk sekadar bertanya tentang keadaan anak saya,” kata si lelaki itu begitu ada perawat datang sesaat setelah dokter pergi.

Perawat menjawab dengan air mata mengembang di kelopak mata, “Putra Pak Dokter meninggal karena kecelakaan lalu lintas kemarin. Ia berada di pemakaman ketika rumah sakit menghubunginya. Setelah berhasil menyelamatkan putera Bapak, barulah dia bergegas melanjutkan upacara penguburan anaknya.”

Moral cerita: (1) Berpikirlah sebelum berbicara; (2) Kenalilah situasi dan kondisi orang lain, kepada siapa kita berbicara.

 JATI DIRI KITA BUKANLAH APA PEKERJAAN KITA

Seorang dokter, pengacara, anak lelaki kecil dan seorang lelaki tua berada dalam sebuah penerbangan dengan pesawat pribadi kecil pada suatu Minggu sore. Tiba-tiba ada masalah pada mesin pesawat. Meskipun upaya terbaik dari pilot sudah dilakukan, pesawat mulai turun perlahan. Pilot pun meraih parasut dan berteriak kepada penumpang bahwa mereka lebih baik melompat, dan pilot pun segera melompat untuk menyelamatkan diri.

Sayangnya, hanya ada tiga parasut yang tersisa.

Dokter meraih satu dan berkata, “Saya seorang dokter, saya menyelamatkan nyawa, jadi saya harus hidup.”  Dan dokter melompat keluar.

Si pengacara menyambar salah satu lipatan parasut yang ada dan berkata, “Saya pengacara dan pengacara adalah orang-orang terpandai di dunia. Saya layak untuk hidup.” Dia pun melompat keluar.

Si lelaki tua memandang anak kecil, mengambil parasut dan mengulurkannya kepada si anak. “Nak, aku sudah menjalani kehidupan yang panjang dan aku rasa sudah cukup. Anak masih muda dan jalan ke depan masih panjang terbentang. Ambil parasut terakhir itu dan hiduplah dalam damai.”

Anak lelaki kecil itu tersenyum dan menyerahkan lagi parasut kepada si lelaki tua dan berkata, “Tidak perlu khawatir Bapak. Orang terpandai di dunia tadi telah salah menyembar tas punggung saya yang terbuat dari kain parasut…..”

JADI SOBAT: Pekerjaan kita tidak selalu mendefinisikan siapa diri kita karena jatidiri manusia tercermin dari perilaku kesehariannya.

 KISAH MANGKUK KAYU, ARTI KELUARGA YANG SESUNGGUHNYA

Ada seorang pria tua yang raganya sudah lemah dan tinggal dengan anak laki-laki dan menantu perempuannya, tak lupa cucunya yang berusia empat tahun. Karena sudah tua, tangan kakek tersebut bergetar dan jalannya pun susah. Suatu ketika keluarga ini makan bersama di meja makan, karena tangannya yang bergetar dan penglihatannya yang mulai kabur, membuat kakek ini lebih sulit saat makan. Tiba-tiba sendoknya jatuh ke lantai, ketika kakek tersebut berusaha mengambilnya, dirinya lupa jika sedang memegang segelas susu, tak elak lagi, susunya tumpah dan meja menjadi kotor.

Anak laki-laki dan istrinya merasa jengkel dengan kekacauan yang ditimbulkan oleh ayah mereka. Merasa sudah cukup bersabar atas apa yang terjadi pada ayahnya, akhirnya anak laki-laki dan istrinya melakukan sesuatu. Mereka mengatur sebuah meja makan kecil di sudut ruangan, di meja itu sang kakek menghabiskan makanannya sendirian sedangkan anggota keluarga lain makan di meja makan bersama-sama. Makanan untuk kakek disajikan dalam mangkuk kayu, demikian juga dengan air minumnya ditempatkan pada gelas yang tidak bisa pecah.

Ketika anak laki-laki dan menantunya melirik ke sudut tempat si kakek makan, terlihat air mata menggantung di pelupuk matanya, namun justru sang anak memberikan peringatan tajam, jangan lagi sampai ada sendok atau mangkuk yang jatuh. Empat tahun berlalu dengan keadaan seperti ini. Suatu ketika pada malam hari, cucu si kakek bermain di lantai terlihat asik bermain dengan mangkuk kecil terbuat dari kayu. Sang ayah bertanya kepada anaknya, “apa yang sedang kau kerjakan nak?” dan si kecil pun menjawab dengan polos, “Oh, aku membuat mangkuk kecil untuk papa dan mama, nanti akan kuberikan sebagai tempat makan papa dan mama saat aku sudah besar nanti.

Kata-kata ini begitu terasa menyesakkan hati, tanpa mampu mengeluarkan sepatah katapun, air mata suami istri ini mengalir deras, menyadari apa yang sudah mereka lakukan pada ayah mereka. Akhirnya malam itu juga, sang anak memegang tangan ayahnya dengan lembut dan membawanya kembali ke meja makan keluarga dan tak mempedulikan lagi meskipun sang ayah menjatuhkan sendok atau meja makan jadi kotor.

Dilansir Vemale dari dari Moral Stories, Anda menuai apa yang Anda tabur. Terlepas bagaimanapun hubungan Anda dengan orang tua Anda, suatu saat Anda akan kehilangan mereka untuk selamanya. Jangan sampai menyesal ketika hal itu terjadi, maka dari sekarang selalu hormati, peduli, dan cintai mereka. Ingatlah ketika mereka juga melampaui masa-masa yang sulit ketika mereka membesarkan Anda.

LIMA KUNCI UNTUK MERAIH KESUKSESAN

Setiap orang ingin sukses. Yang belum sukses ingin menjadi orang sukses. Yang sudah sukses ingin lebih sukses lagi. Yang menarik adalah setiap orang sukses mempunyai ciri-ciri yang sama. Mereka punya “kunci” sukses serupa.

Apa saja?

Satu, berpikir positif. Berpikir positif sangat menentukan kadar sukses seseorang. Semakin positif pikiran seseorang, biasanya ia semakin bisa meniti tangga sukses dengan rasa percaya diri yang kuat.

Dua, percaya akan kemampuan diri sendiri. Keyakinan akan diri sendiri akan terpancar keluar sehingga orang lain juga bisa mempercayai kita. Tanpa rasa percaya diri yang besar, sukses sering kali terhambat oleh “blok mental.”

Tiga, belajar sepanjang hayat. Senang belajar berarti selalu memperbaiki kesalahan dan mencoba hal-hal baru. “Sepanjang hayat” berarti selalu membuka mata dan telinga setiap saat, sehingga bisa memahami kekurangan dan kelebihan dari setiap tindakan.

Empat, senang memberi. Memberi merupakan “bensin” kehidupan. Setiap orang memberi dalam kapasitasnya masing-masing. Yang kaya, silakan memberi dalam bentuk uang. Bagi yang sederhana, bisa memberi informasi dan tenaga. Memberi merupakan bentuk afirmasi akan kelimpahan kita di alam semesta.

Lima, sehat fisik dan mental. Jadilah seseorang yang sehat fisik dan mentalnya. Kita memerlukan kesehatan dalam beraktivitas dan berkarya bagi masyarakat.

Semoga bermanfaat. Salam sukses Luar Biasa!!

Sumber : Andrie Wongso

CERITA INSPIRASI. KALAU BISA SEKARANG, MENGAPA HARUS BESOK?

Seorang eksekutif muda melangkahkan kakinya ke sebuah kedai burger kecil. Dia sudah biasa mengisi perut dengan salah satu menu burger favoritnya. Namun, siang itu, dia agak heran karena pemilik kedai sedang bersiap-siap untuk menutup kedainya.

Eksekutif: “Lho pak, ini kan masih siang, kok sudah mau tutup?”

Tukang burger: “Iya, penghasilan saya sudah cukup untuk hari ini. Saya akan pulang ke rumah untuk berkumpul bersama keluarga.”

Eksekutif: “Tapi, bukankah lebih enak kalau bapak tutup agak malam nanti. Siapa tahu bapak bisa menambah penghasilan lebih lagi. Kan lebih untung tuh…”

Tukang burger: “Lalu, untuk apa penghasilan lebih itu, jika dengan penghasilan saya hari ini saja, saya juga sudah mendapat lebih dari cukup?”

Eksekutif: “Jika penghasilan Bapak lebih banyak lagi, maka Bapak akan makin sukses. Kedai burger bisa dikembangkan dan usaha Bapak pastinya makin besar.”

Tukang burger: “Jika usaha saya berkembang, apa untungnya buat saya?”

Eksekutif: “Tentu saja, uang Bapak akan lebih banyak lagi.”

Tukang burger: “Lalu untuk apa uang banyak itu?”

Eksekutif: “Dengan uang itu, Bapak bisa mengembangkan usaha burger ini lebih lagi. Membuka perusahaan burger, bahkan membuka cabang di mana-mana.”

Tukang burger: “Terus untuk apa semua itu?”

Eksekutif: “Jika Bapak sudah kaya nanti, maka Bapak bisa membahagiakan keluarga lebih lagi dari yang sekarang ini.”

Tukang burger: “Anak muda, keluarga saya pernah mengatakan uang bukanlah hal terpenting, yang penting bagi mereka adalah saya memiliki waktu di rumah untuk berkumpul bersama. Jadi, jika tujuannya toh tetap sama, demi kebahagiaan keluarga, maka untuk apa saya menunggu. Jika saya bisa berkumpul dan cukup makan dengan mereka hari ini, maka mengapa harus menunggu hingga esok hari? Bagaimana bila hari esok tak pernah tiba?”

Dengan jawaban itu, si tukang burger melenggang santai pulang ke rumah.

Prioritas utama si tukang burger jelas berbeda dengan sang eksekutif. Yang satu berpikir bahwa uang bukan segalanya, lainnya memandang uang adalah segalanya. Bagaimana dengan Anda?

Tentu tak mengapa menginginkan kesuksesan dan penghasilan yang besar, namun pertanyaan penting juga ikut terlontar: Sudahkah Anda meluangkan waktu bersama orang-orang terkasih hari ini?

Sumber : vemale dot com

RENUNGAN. MENGAPA KITA HARUS BERSYUKUR?

Begitu banyak manusia yang terus mengeluh dalam hidupnya.

kenapa tidak bersyukur saja?

dia terlahir sebagai orang yang kurus, lalu dia menghujat Tuhannya yang tidak memberinya tubuh gemuk.

kenapa tidak bersyukur saja?

ada orang yang terlahir gemuk, lalu dia menghujat Tuhannya yang tidak memberinya tubuh kurus.

kenapa tidak bersyukur saja?

ada orang yang tidak pernah puas dengan hartanya, lalu dia menghujat Tuhannya yang tidak memberikan semua yang dikehendakinya.

kenapa tidak bersyukur saja?

Sesungguhnya ALLAH SWT Maha Tahu. Dia mengetahui segala sesuatu yang tidak diketahui manusia. Termasuk semua hal terbaik untuk umatNya. kita semua tahu dan meyakini hal itu.

lalu kenapa kita masih mengeluh dengan semua yang diberikanNya pada kita?

Apakah kita merasa lebih tahu dari ALLAH SWT?

Apakah kita merasa lebih hebat dari Tuhan Yang Maha Mulia diatas segalanya?

Mari perbaiki diri kita agar menjadi manusia yang lebih baik di sisi Allah SWT dan bagi orang lain

 BUANG SAJA KENTANG BUSUK ITU!

Pada sebuah sekolah, seorang guru mengajarkan sesuatu pada murid-muridnya. Beliau meminta agar para murid membawa sebuah kantong plastik besar dan mengisinya dengan kentang. Kentang-kentang itu mewakili setiap orang yang pernah menyakiti hati mereka dan belum dimaafkan. Setiap kentang yang dibawa, dituliskan sebuah nama orang yang pernah menyakiti hati murid-murid itu.

Beberapa murid memasukkan sedikit kentang, sebagian membawa cukup banyak. Para murid harus membawa kentang dalam kantong itu kemanapun mereka pergi. Menemani mereka belajar, dibawa pulang, dibawa lagi ke sekolah, diletakkan di samping bantal mereka saat tidur, pokoknya, kentang dalam kantong itu tidak boleh jauh dari mereka.

Makin hari, makin banyak murid yang mengernyitkan hidung karena kentang-kentang itu mulai mengeluarkan aroma busuk.

“Apakah kalian telah memaafkan nama-nama yang kalian tulis pada kulit kentang itu?” tanya sang guru.

Para murid tampaknya sepakat untuk belum bisa memaafkan nama-nama yang telah memaafkan mereka.

“Jika demikian, kalian tetap harus membawa kentang itu kemanapun kalian pergi,”

Hari demi hari berlalu. Bau busuk yang dikeluarkan kentang-kentang itu semakin membusuk. Banyak dari mereka yang akhirnya menjadi mual, pusing dan tidak nafsu makan karenanya. Akhirnya, mereka membuang kentang-kentang itu ke dalam tempat sampah. Dengan asumsi mereka juga memaafkan nama-nama yang mereka tulis di atas kulit kentang.

“Nah, para murid, dendam yang kalian tanam sama seperti kentang-kentang itu. Semakin banyak kalian mendendam, semakin berat kalian melangkah. Semakin hari, dendam-dendam itu akan membusuk dan meracuni pikiran kalian,” ujar sang guru sambil tersenyum.

Para murid hanya terdiam, meresapi setiap perkataan guru mereka.

“Karena itu, sekalipun kalian menyimpan dendam pada orang lain, atau mereka pernah menyakiti hati kalian, maafkanlah mereka dan lupakan yang pernah mereka lakukan, jadikan hal itu sebagai pembelajaran dalam hidup kalian. Dendam sama seperti kentang-kentang busuk itu, kalian bisa membuangnya ke tempat sampah,”

Para murid tersenyum. Sejak hari itu, mereka belajar untuk menjadi manusia yang pemaaf dan tidak mudah menyimpan dendam. Hidup mereka tenang tanpa terbebani bau busuk yang akan merusak pikiran dan tubuh.

HIKMAH
Kawan, kisah ini menjadi inspirasi bagi kita semua untuk menjadi manusia yang pemaaf. Sekalipun dendam tidak kita rasakan beratnya secara fisik, tetapi secara mental akan melemahkan langkah Anda, membuat hidup Anda tidak nyaman. Maafkanlah mereka yang pernah menyakiti Anda dan hirup udara segar kebebasan.

Sumber : vemale

BELAJAR TENTANG SABAR DARI BUNGA SEPATU

Pada suatu masa, di sebuah desa, seorang ibu sedang menunggu kedatangannya puterinya yang bekerja. Ibu itu adalah seorang wanita yang telah kehilangan suaminya sakit bertahun-tahun yang lalu. Pendapatan keluarga hanya didapat dari anak perempuannya yang bekerja di kota dan pulang setiap akhir pekan. Sekalipun puterinya bekerja, kehidupan ekonomi mereka tak kunjung membaik.

Saat malam akan menjelang, puterinya tiba di rumah dengan wajah yang sangat lelah dan tampak gusar. Melihat wajah yang tidak biasa itu, sang ibu menanyakan kepada puterinya.

“Anakku, ada apa? Mengapa wajahmu tampak sedih dan gusar?” tanya si ibu.

Anak perempuan itu menghela napas panjang lalu mengatakan, “Ibu, aku lelah sekali. Aku tidak habis pikir mengapa hidupku sangat malang. Aku selalu bekerja keras, selalu menunjukkan apa yang aku bisa, aku bahkan selalu mengorbankan banyak hal untuk pekerjaanku. Tetapi tidak ada yang memuji pekerjaanku, mereka bahkan sering mengejek dan mengatakan aku tidak akan bisa mencapai hasil terbaik dalam pekerjaanku,” dua tetes air mata mengalir di pipi anak perempuan itu.

Sang ibu mengusap rambut anak perempuannya dengan sayang. “Anakku, jangan pernah mengharap orang lain untuk selalu memuji apa yang sedang engkau kerjakan,”

“Maksud ibu?” tanya sang anak tak mengerti.

“Coba kau lihat bunga sepatu yang tumbuh di halaman belakang rumah kita. Dulu, saat kau masih kecil, tidak ada yang menanam pohon bunga sepatu di sana, dia tiba-tiba tumbuh dan semua orang membiarkannya tumbuh tanpa memberi pupuk atau menyiram.” ujar si ibu.

Anak perempuannya hanya mendengarkan.

“Tidak ada yang peduli pada bunga sepatu itu, hingga pada masa dia berbunga, semua orang akan mengagumi betapa indah kelopak-kelopaknya. Bahkan tidak sedikit yang berebut untuk memetiknya,” lanjut si ibu sambil tersenyum. “Anakku, orang lain mungkin tidak peduli dengan apa yang kamu kerjakan sekarang, tetapi jangan menyerah dan selalu berikan yang terbaik, seperti yang dilakukan bunga sepatu. Dia selalu bersabar dan memberikan yang terbaik sekalipun orang-orang tidak peduli padanya.”

Anak perempuan itu langsung memeluk ibunya sambil menangis karena telah merasa keliru dan menyesal telah menangisi kesabaran dan kerja keras yang sudah dia lakukan. “Aku berjanji akan memberikan yang terbaik,” ujarnya.

Sahabat, sekalipun banyak hal yang menjadi penghalang dalam pencapaian usaha kita, kita tidak boleh menyerah begitu saja. Selalu berikan yang terbaik, maka suatu saat, akan banyak orang yang melihat betapa indah hasil kerja keras kita, seperti kelopak bunga sepatu yang cantik. Kelopak yang mekar sekalipun tidak ada yang peduli dengannya.

Sumber : Vemale

CERITA INSPIRASI YANG SANGAT BAGUS. ANTARA PAKU DAN EMOSI

Ada seorang anak yang memiliki temperamen tinggi. Ia sangat emosional dan mudah marah. Suatu hari saat ia marah besar, ayahnya memberikan sebuah palu dan paku, memintanya memaku sebuah batang kayu agar emosinya reda. Dan berhasil! Emosi sang anak reda dan menghilang.

Hari berikutnya, emosi anak meluap lagi. Kali ini ayah menyodorkan dua paku kepada anaknya. Begitulah seterusnya hingga puluhan paku telah menancap di sebuah batang kayu yang terlihat kekar tersebut.

Seiring bertambahnya jumlah paku yang ditancapkan, sang anak merasa metode ini tak lagi efektif. Semakin hari emosinya semakin sulit dikendalikan. Datanglah ia kepada ayahnya, “ayah, buat apa kau selalu menyuruhku memaku kayu bila emosiku tak bisa diredakan?” tanyanya.

Sang ayahpun menggandeng tangannya menuju batang kayu yang sudah penuh paku. “Coba, cabut semua paku-paku yang sudah kamu tancapkan itu.” Anakpun menurut, di dalam benaknya, ayah akan menyuruh menancapkan paku-paku itu kembali. Namun ternyata tidak. Sang ayah mengumpulkan paku kembali dan mengangkat batang kayu. “Coba lihat, bagaimana bentuk batang kayu ini sekarang. Kayu yang tadinya tampak kokoh dan baik-baik saja, penuh luka dan banyak lubang di sekujur tubuhnya. Demikianlah saat kamu meluapkan emosimu kepada orang lain. Hati mereka terluka, sekalipun mereka tampak baik-baik saja,” jelas sang ayah.

Anda mungkin merasa bahwa orang di sekitar Anda baik-baik saja. Namun, jauh di lubuk hati mereka sedang terluka oleh emosi Anda. Sama halnya seperti paku, perkataan adalah sebuah senjata yang sangat kejam untuk melukai seseorang. Apabila emosi Anda sedang meluap-luap, tarik nafas panjang dan kendalikan emosi dan perkataan Anda.

Sumber : vemale

Iklan

About djosave

3S (Simple, Sabar, Sayang)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s